Don’t look back in anger…
photograph by Mark Hooton :: via spazmock
Winter War is Coming
House Stark from Game of Thrones illustrated by Giordan Casanova :: via behance.net
Missy Higgins performing at Bondi Pavilion, April 23 2012
“Each morning when I awake, I experience again a supreme pleasure - that of being Salvador Dali”
Salvador Dalí illustrated by Francesco...
Sherina Munaf by Jacky Suharto for ELLE Indonesia Oct 2010
Salah bila membandingkan Raisa dengan Adele, menurut saya. Seperti di beberapa forum bahkan komentar-komentar seperti youtube yang banyak membandingkan gadis ini dengan penyanyi asal Inggris tersebut. Walau malam itu Raisa membawakan satu lagu Adele - Rolling In The Deep, namun itulah alasan saya tidak membandingkan gadis ini dengan Adele.
Saya pribadi malah melihat Raisa itu seperti Alicia Keys, walau (akhirnya membandingkan). Melihat aksi panggung raisa dengan shaking hips, dan vokal menawan, ya seperti Alicia Keys. tapi semuanya tetap itu pikiran di benak saya.
Interaksi ke penonton masih sedikit, mungkin karena pendatang baru (mungkin). padahal dia adalah bintang malam itu.
dan inilah.. Raisa..






Andien sebenarnya tampil setelah Baim dan Raisa, namun saya posting andien dulu karena agak kecewa sama gadis mungil ini. kenapa? Mungkin yang menyaksikan penampilan Andien pada 2010 lalu di tempat yang sama, Mercure Hotel Pontianak, pasti agak kecewa dengan Andien. karena tidak ada sesuatu yang baru dibawakan gadis ini. 2010 saat “Moving On” ia keluarkan menjadi single, dibawakan kembali malam itu, Mei 2012. Janji Andien pada press conference sehari sebelum konser Jazz In Town untuk membuat surprise ternyata bagi saya tak terlalu mengejutkan. mungkin hanya bagian aransemen musik, dan selebihnya tidak.
Namun Andien tetaplah andien di atas panggung, yang ceria, centil, “nakal”, dan berhasil membuat penonton takjub dengan aksi panggungnya. tak bisa diam di satu titik, dia menguasai panggung. Interaksi dengan player band dan penonton bagus sekali, kelihatan jam terbang yang tinggi. Tapi walau dalam hal aksi panggung Andien yang menang malam itu, namun penyihirnya adalah Raisa :)
okey, let’s moving on…





Songlist Andien: Sahabat Setia, The One That Got Away (Katy Perry cover), Milikkmu Selalu, dan Moving On.
Ps: saya jadi ingat omongan temen mengomentari video klip Moving On andien, “Yah jadi Andien enak, kalo patah hati tinggal ambil kamera, paspor, terus jalan-jalan ke Thailand” hehe
ketika Baim muncul membawa gitar fender stratocaster, saya sebentar tertegun.. oh ini baim, aura nya masih ada. saya belum pernah bertemu baim sebelumnya, sekarang gitaris di superband bernama Dance Company yang isinya vokalis semua. masih ada tembang-tembang Baim yang masih saya ingat. dan ternyata malam itu di Jazz In Town, Mercure Hotel Pontianak dibawakannya. Baim…


Baim dan Nikita Dompas

liat stikernya “The Dance Company”

song list baim malam itu: Cross Roads, Ough (Ada band), Just The Way You Are (Bruno Mars cover) dan Kau Millikku
ini di Press Conference Raisa, Andien, dan Baim. Mercure Jumat 4 Mei 2012




note: saya sampe gak bisa ngomong di press con tersebut, malah nyuruh raisa senyum. hahaha
saat hujan turun mulai deras, tanpa sound check karena agak chaos nya acara. Gugun Blues Shelter memanaskan panggung.
yang saya pikirkan saat di menonton GBS, on the small cafe after long hours work, hanging out with friends, and GBS on the stage.. that’s must be amazing..
here we go, Gugun Blues Shelter at semerbak khatulistiwa, Pontianak Maret 2012
Gugun, Bowie and John Armstrong (Jono)


stratocaster dan soul… ahh

Jono dancing on the rain..

ngesoul lagi..

sayangnya tak dapat songlist karena jauhhhh panggungnya, hujan buat tidak mood..
ini vokalisnya Winner Band, saya baru tau band ini setelah googling, ternyata proyekan gitaris Kangen Band dan drummer Kotak.. :D liat vokalisnya aja ya :)




panggung licin, kepleset


sebenarnya hari itu bukan malam yang tepat buat motret. hujan agak deras, acara molor, lighting kurang oke. sound nya juga.. tapi i do the best i can..
SIDEPONY di Semerbak Khatulistiwa 11 Maret 2012
dian..

ajung, bian, dani

dian & bian

ajung

Siang, Kamis (19/1/2012), saya di hubungi teman jurnalis yang mangkal di DPRD Pontianak bahwa ada hearing antara anggota dewan dan warga difabel Pontianak. permasalahannya tuntutan mereka tentang fasilitas untuk difabel, dan hak kerja.
Masalah yang selama ini mereka ingin bicarakan sejak lama, terutama fasilitas di kota ini yang tak menunjang bagi mereka yang cacat. lihat saja di sekeliling anda apa warga difabel mendapat hak yang layak? bahkan di ruang-ruang publik mereka juga mendapat kesusahan. dan yang pasti hak kerja mereka yang sangat tipis untuk di kota pontianak, padahal sudah tertera dalam UU No 4 Tahun 1997 dan pasal 41 (2) dan 42 UU No 39 Tahun 1999 tentang HAM; kelompok penyandang cacat diharuskan memperoleh pelayanan khusus. Artinya, setiap penyandang cacat mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan atau penyediaan fasilitas dan sarana demi kelancaran, kemananan, kesehatan, dan keselamatan dalam aktivitasnya.
untuk penyediaan fasilitas coba lihat Keputusan Menteri (Kepmen) Pekerjaan Umum (PU) Nomor 468 Tahun 1998 tentang Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan serta Kepmen Perhubungan Nomor 71 Tahun 1999 tentang Aksesibilitas Penyandang cacat dan Orang Sakit pada Sarana dan Prasarana Perhubungan. Dalam Kepmen PU dan Kepmen Perhubungan disebutkan secara rinci bagaimana supaya bangunan, seperti pedestrian, jembatan penyeberangan, telepon umum, dan sektor transportasi, dapat diakses secara aman oleh para difabel. apa nyatanya?
saya bertemu Pak Sangkar di akhir kegiatan yang hendak keluar dari gedung DPRD lantai dua. beliau tersenyum dan saya menyapa warga sungai kakap itu. sebelumnya beliau menolak untuk digendong oleh sekuriti menuruni anak tangga kantor dewan kota, beliau memilih turun sendiri. dan ini foto-foto Pak Sangkar yang bersusah payah turun dari lantai dua, bahkan kantor DPRD pun tak ada fasilitas. semoga foto-foto saya ini menyampaikan harapan Pak Sangkar….

Sangkar, penyandang cacat keluar ruangan rapat DPRD Kota Pontianak seusai hearing dengan anggota DPRD Kalbar mempertanyakan fasilitas bagi kaum difabel Pontianak, Kamis (19/1/2012).





DI PENGHUJUNG usia 70an tahun, semangatnya menekuni fotografi tetap besar. Terlahir sebagai anak keempat dari enam bersaudara, Sri Suharti mulai memotret sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Bersenjata kamera Rolleicord milik temannya, Sri Suharti [kelahiran 10 Agustus 1930] mulai menekuni dunia fotografi. Ia menjadikan teman-teman sekolahnya sebagai model ndeso [gaya desa] -meminjam istilah Sri Suharti sendiri. Padahal, pada waktu itu belum banyak orang yang memiliki kamera film berformat 120 milimeter. Kegemaranannya di jagat gambar film semakin kuat ketika ayahnya menghadiahi kamera saat Sri duduk di bangku sekolah menengah pertama khusus putri di Pasar Legi, Solo.